Monday, December 30, 2002

Tahun Baru, Hari Baru, Fajar Baru

Beberapa jam lagi kita masuk ke tahun yang baru lagi. Sebenarnya, tidak ada tanda khusus yang membedakan hari terakhir tahun ini dengan tanggal 1 January besok. Bumi tetap berputar seperti biasa. Angin, hujan, dan awan tetap ada di mana-mana. Tetumbuhan dan hewan tetap hidup dengan caranya yang sama. Cuma, manusia memang butuh suatu titik yang jadi penanda masuknya masa yang baru. Kita manusia, butuh satu titik ancang-ancang baru, agar bisa mengembalikan kecepatan lari yang sudah banyak berkurang di akhir tahun ini. Agar bisa mengejar cita-cita, yang rasanya makin jauh meninggalkan kita.

Yang selalu terulang, di gerbang periode baru ini, saya pasti kepikiran tentang banyak hal yang belum sempat dikerjakan. Juga kepikiran tentang apa saja yang belum berhasil diraih. Setelah itu, mimpi-mimpi baru (dan juga mimpi lama yang belum tercapai) bermunculan dengan sendirinya. Bagi orang-orang level karyawan seperti saya, hampir 30% waktu dihabiskan di kantor. Sehingga, gaji dan karir pastilah jadi salah satu tolok ukur 'pencapaian' yang paling sering dilihat. Jujur saja, setahun ini tidak ada perubahan sedikitpun, baik pendapatan maupun promosi jabatan. Dan jujur saja, bagi saya ini tidak hanya berarti jalan di tempat. Justru berarti kemunduran, karena di saat yang sama semua hal rasanya bergerak maju. Sementara itu, keinginan untuk mencoba tantangan karier yang baru pun ternyata belum kesampaian. Rasanya, ada banyak sekali hal-hal yang menahan saya untuk berpindah ke perusahaan lain. Tapi bagaimanapun, pekerjaan adalah sesuatu yang harus selalu disyukuri. Apalagi di masa sulit sekarang ini. Berat rasanya membayangkan perasaan teman-teman yang terpaksa harus hengkang dari kantor kami pada tanggal 31 Desember ini.

Masih banyak lagi yang harus disyukuri. Setahun ke belakang, berkah paling besar pastilah kehadiran putri pertama saya, Stella. Apalagi jika mengingat perjuangan berat dan resiko yang harus ditanggung istri saya selama periode kehamilannya. Jika mengingat Stella lahir saat usia kandungan yang masih relatif muda. Rahmat itu rasanya makin terasa manis, justru saat melihat Stella tumbuh sebagai bayi yang berani (bahkan cenderung nekat), kreatif (bahkan dalam standar orang Jawa, pethuk banget), dan aktif (ini metodenya Stella untuk mencegah badan orang tuanya melar...he..he). Kiranya, saya patut berterima kasih pada istri, yang mengorbankan karirnya, dengan pilihan untuk mendampingi putri kami di rumah.

Rasanya, saya juga perlu bersyukur atas kesehatan saya dan keluarga selama ini. Juga atas hal-hal yang telah disediakan untuk saya dan keluarga. Walaupun dalam level yang sederhana, saya patut bersyukur bahwa keluarga tidak pernah merasa berkekurangan. Bahwa kami sekeluarga telah menempati rumah sendiri dengan halaman tambahan yang belum tentu dimiliki tetangga. Bahwa kami telah diberi kemudahan dengan kendaraan pribadi dan kesempatan untuk mengenal para tetangga dengan persaudaraan yang sangat erat.

To our Creator God of All That Is,
I give thanks for all of my blessons,
I give thanks for Your Love and Your Light.


To our Creator God of All That Is,
for the next year, I'm asking You to be a purer conduit of Your Love and Your Light,
for the next year, I'm asking You to be the purity of intentions that You desire


Pasti dan utama, saya memang harus bersyukur pada Sang Maha Kasih, karena begitu sering saya diingatkan lewat hal-hal sederhana di sekitar saya. Atas rahmat yang saya rasakan melalui seluruh pancaindera dan lapisan tubuh saya. Atas rahmat bahwa saya telah 'diperkenalkan' dengan anda semua: kaum bloggerians, the web surfer, yang telah memperkenalkan satu wacana dan kesenangan baru untuk saya.

Happy new year teman-teman.
I wish you all have a very nice and brighter new year.
/* ========google analytics===== =============================*/